Ketika tulisan ini dibuat serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina, telah berlangsung selama tiga hari. Selama itu pula dunia disuguhi oleh tindakan keji, barbar dan tidak berkeprikemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah zionos Israel. Dengan dalih untuk mengamankan wilayahnya dari ancaman Hamas, Israel membalasnya dengan membumi hanguskan kota Gaza .
Bagai seekor banteng yang sedang mengamuk, Israel dengan pongahnya menyerang segala fasilitas yang dimiliki oleh Hamas. Mereka tidak memperdulikan lagi apakah itu fasilitas militer atau fasilitas sipil. Tetapi sekali lagi fakta menyatakan bahwa kebanyakan yang menjadi korban serangan Israel adalah fasilitas sipil dan fasilitas umum. Dari mulai instalasi listrik, sekolah, rumah sakit hingga perumahan penduduk.
Jalur Gaza semakin merana. Wilayah yang telah mengalam embargo baik itu kesehatan, makanan hingga suplai BBM, dan hanya tergantung pada bantuan internasioanal, menjadi i sebuah daerah yang makin menyedihkan untuk dipandang mata. Gedung-gedung runtuh dan tidak ada lagi tawa yang menghiasi warganya. Mereka kini lsemakin akrab dengan air mata.
Hari ini dunia kembali dipertontonkan sebuah aksi gila dan terorisme yang dilakukan oleh sebuah negara yang bernama Israel, dan kembali dunia tidak berdaya melihatnya. Sebetulnya ini bukan masalah baru tetapi ini merupakan masalah lama dengan aktor yang sama pula. Kita masih teringat ketika Israel dengan asyiknya membantai kamp pengungsian di Shabra Shatilla yang dipimpin oleh Ariel Sharon mantan perdana menteri Israel yang kini tengah terbaring sakit. Dalam aksi ini ribuan nyawa menemui ajalnya dan lagi-lagi kebanyakan diantara mereka ialah orang-orang yang seharusnya tidak menjadi korban.
Tulisan kali ini tidak ingin mengupas atau membahas permasalahan yang terjadi di Timur Tengah ini dari sisi politik, diplomatis atau militer sekalipun. Tetapi yang ingin penulis angkat ialah beragamnya suara atau pendapat yang ada di sekitar konflik tersebut. Karena, memang aksi ini telah menyebabkan timbulny ragam pendapat dari masyrakat dunia.
Aksi ini di tanggapi beragam oleh dunia. Ada yang mengecam tindakan yang dilakukan oleh Israel tetapi ada pula yang terang-terangan malah mendukung negara tersebut. Di Timur Tengah sendiri pusat dari konflik tersebut terjadi beragam pendapat. Negara-negara seperti Arab Saudi, Yordania dan Mesir hanya terdiam dan seolah terpana oleh agresi ini, meraka hanya bisa mengatakan stop serangan tanpa ada gerakan aktif lainnya. Sedang yang jelas-jelas menyatakan dukungan kepada Palestina, dalam hal ini faksi Hamas untuk melakukan perlawanan hanya Suriah dan Iran yang memang terkenal dengan sikap penentangan terhadap negara Israel dan Amerika Serikat.
Bila ditingkat kepala negara terjadi beragam pendapat tetapi untuk ditingkat massa hampir tidak ada perbedaan. Rakyat Arab sepakat dan menyatakan mendukung dan menyokong tindakan yang dilakukan oleh Hamas. Bahkan banyak kelompok masyrakat yang tidak hanya sekedar siap membantu secara materi tetapi nyawa pun mereka siap berikan. Hal ini bisa kita lihat dalam aksi-aksi dukungan yang dilakukan di negara-negar Arab mereka dengan lantang menyuarakan dukungannya kepada Hamas bahkan tidak jarang mereka juga membawa gambar Almarhum Syaikh Ahmad Yassin pemimpin Hamas dalam aksinya tersebut.
Sedang di luar Timur Tengah hampir seluruh negara mengecam apa yang telah dilakukan oleh Israel dan menyerukan segera diadakannya gencatan senjata. Sedang yang mendukung aksi Israel tersebut hanyalah negara-negara besar seperti Amerika Serikat yang memang mempunyai kepentingan baik itu politik ataupun ekonomi di wilayah Timur Tengah. Bahkan negara adidaya yang selama ini mengaku sebagai polisi dan penjaga perdamaian dunia ini ikut aktif dalam memberikan bantuannya ke Israel.
Tetapi, di tingkat ulama-ulama Islam yang progresif seperti Dr, Yusuf al-Qardhawy dan yang lainnya berpendapat lain. Mereka menyatakan dukungannya kepada Hamas, untuk terus melakukan perlawanan.
Lalu bagaimana dengan Indonesia. kita masih teringat diawal-awal aksi Israel ke Palestina para mahasiswa telah bergerak. Mereka melancarkan aksi ke kedutaan besar Mesir di Jakarta, dengan tuntutan membuka perbatasan mesir dengan jalur Gaza agar bisa mengirimkan bantuan kemanusiaan. Ormas-ormas islam juga melakukan hal yang serupa dari yang moderat dengan menyerukan agar PBB dapat bersikap jantan dan menjatuhkan sangsi bagi Israel. Sampai ada yang ingin mengirimkan lascar untuk berjihad disana.
Selain itu hampir seluruh elemen rakyat di negeri ini juga menyatakan pendapat yang serupa. Bahkan penulis menyaksikan sejumlah elemen mahasiswa yang berideologi kiri juga mengcam aksi tersebut dan menyatakan dukungannya terhadap rakyat Palestina. Serta tidak ketinggalan mereka menyatakan boikot terhadap produk-produk Amerika Serikat.
Hal yang serupa juga terjadi di tingkat pemrintah. Walau masih ada yang merasa pemerintah kurang ‘cepat’ tetapi, pemerintah telah secara resmi menyatakan kecamannya terhadap agresi yang dilakukan oleh Israel. Bahkan pemerintah Indonesia juga mendesak dewan keamana PBB untuk segera bertindak. Tidak hanya itu pemerintah telah menyiapkan pasukan penjaga perdamaian bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Bahkan pemerintah Indonesia juga mengirimkan bantuan obat-obatan dengan jumlah yang cukup besar.
Tetapi hingga tulisan ini dibuat ada satu komponen atau komunitas masyarakat yang masih terdiam dan belum terdengar suaranya. Mereka yang selama ini selalu bicara tentang demokrasi, HAM, kesetaraan gender, Pluralisme dan segala macamnya belum terdengar statementnya sama sekali. Entah ada apa dengan mereka yang selama ini dengan gagah meneriakkan gagasannya. Apakah masalah ini kurang menarik atau mereka enggan dicap radikal bila menyatakan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina
. Padahal selama ini mereka selalu berbicara lantang bila terjadi aksi teror didalam negeri.
Atau mereka takut tidak mendapat biaya, donasi atau honor yang besar bila mereka menggugat kepentingan Amerika Serikat karena memang terdengar isu yang santer kalau komunitas masyarakat ini mendapatkan dana untuk melakukan aksinya dari negara paman sam trsebut. Ah semakin tahu saja kita siapa mereka itu?
by:Ahmad syakib








